Fenomena Rambut Gimbal Anak Dieng

Anda ingin mengabadikan foto bersama anak-anak pegunungan Dieng Plateau yang berambul gimbal? Yah di Dataran Tinggi Dieng saja tempatnya. Aneh memang tanpa genetik, ras, maupun salon kecantikan anak-anak tersebut memiliki rambut yang saling menyatu antara satu rambut dengan rambut lainnya.

Keanehan antara satu anak berambut gimbel dengan anak berambut gimbel yang lain tentu saja berbeda, mereka memiliki keunikan sendiri-sendiri sebagai contoh anak yang berambut gembel dari Dieng Kulon yang bernama Sumprah. Inilah kisah salah satu anak yang berambut gembel Dieng “Sumprah” :

Sekitar tahun 2.000an lahirlah seorang anak dari pasangan Slamet dan Ngatiyem, mereka sekeluarga hidup bahagia sebagai seorang petani kentang di Dataran Tinggi Dieng. Masa kecil Sumprah normal layaknya anak pada umunya, tidak terdapat keaneha yang pada diri Sumprah, namun ketika menginjak umur 6 tahun Sumprah mengalami panas yang tak kunjung sembuh.

Dari panas yang berkepanjangan, lama kelamaan rambut Si Sumprah saling melekat dan tidak bisa dipisahkan. Akhirnya Sumprah memiliki rambut gimbal yang umum di miliki anak seusianya di Dataran Tinggi Dieng.

Keanehan yang terjadi pada diri Sumprah yaitu ketika orang tuanya mau mendaftarkan sekolah SD. Namanya anak kecil kalau di foto kadang merasa takut. Pada tahun 2.000 belum banyak yang memiliki HP yang canggih seperti sekarang ini khususnya di Dataran Tinggi Dieng. Jadi memotretnya masih menggunakan jasa tukang potret keliling, Sumprah tidak mau difoto dan marah, dengan terus dibujuk akhirnya Sumprah mau untuk difoto. Apa yang terjadi saat Sumprah difoto ternyata Rambut Gimbalnya Berdiri seperti tokoh dalam pewayangan punokawan.

Tidak hanya itu saja kejadian yang dialami Sumprah yang membuat bingung orang tuanya. Pada saat ruwatan rambut gimbal dilaksanakan dan permintaan dari anak yang telah dipenuhi, rambut gimbal barulah bisa dicukur, namun setelah beberapa bulan berlalu rambut gimbalnya terus tumbuh. Dipotong tumbuh lagi, dipotong tumbuh lagi tumbuh lagi sampai Si Sumprah bisa berbicara dengan lancar. Ternyata selama ruwatan si Suprah masih cadal, dalam pengucapan permintaannya kurang dimengerti olah kedua orang tuannya. Sumprah minta dibelikan “Tempe” namun oleh orang tuanya di belikan HP.

Leave a comment

×